Rumah Adat Pakpak
Sumber: Pariwisata Sumut

8 Keanekaragaman Rumah Adat Sumatera Utara

Posted on

Danau Toba, Istana Maimun, Becak Motor Siantar, Menara Tirtanadi dan Lapangan Merdeka adalah bukti bahwa Sumatera Utara unik dan eksotis. Deretan tempat bersejarah serta pariwisata yang telah disebutkan tadi menjadikan Sumatera Utara semakin dikenal dunia.

Tetapi nggak hanya itu, dari segi keanekaragaman adat pun, Sumatera Utara (biasa disebut dengan Sumut) juga bisa jadi andalan. Sebut saja Rumah Adat Bolon yang menjadi rumah adat khas di Sumatera Utara, atau 13 jenis suku adat yang hidup berdampingan di Sumut dengan damai.

Nah, dalam pembahasan ini, kamu akan diajak berkelana ke Sumatera Utara lewat 8 keanekaragaman Rumah Adat Sumatera Utara. Penasaran? Keep reading ya!

1. Rumah Adat Sumatera Utara Bolon

Rumah Adat Sumatera Utara Bolon
Sumber: Dtecnoindo

Rumah Adat Bolon adalah rumah adat dari Sumatera Utara yang diakui secara nasional. Bolon menjadi simbol paling ikonik suku Batak di provinsi ini. Sangking ikoniknya, masyarakat Batak membangun Bolon dengan banyak makna, diantaranya:

  • Bolon menjadi pedoman hidup dalam pergaulan antar individu
  • Bolon menjelma menjadi sarana pelestarian kebudayaan Batak dalam bentuk cagar budaya.

Karena maknanya yang sakral, pembangunan Rumah Adat Bolon selalu penuh dengan filosofi. Dulunya rumah ini selalu digunakan sebagai tempat tinggal 13 raja.

Filosofi Bolon

Tiap inci lukisan, ornamen serta hiasan dinding di Bolon, benar-benar memiliki nilai filosofi tersendiri.

  1. Ornamen Gorga dengan bentuk cicak bermakna bahwa suku Batak dapat beradaptasi dan hidup di mana saja. Bentuk ular bermakna bahwa setiap ular yang masuk ke dalam rumah berarti sebuah keberkahan. Sedangkan bentuk kerbau ialah sebuah ucapan terima kasih kepada kerbau yang bermanfaat dan selalu membantu manusia.
  2. Tiang Tinggi Niggor menjadi lambang kejujuran dari masyarakat Batak.
  3. Lubang telaga yang berada di dekat dapur Bolon menjadi makna bahwa setiap keburukan harus dibuang jauh-jauh.
  4. Arop-aropan yang ada di depan Bolon melambangkan harapan masyarakat Batak untuk hidup yang layak.

Arsitektur Rumah Adat Bolon

Mulai dari atap hingga dinding Bolon menggunakan arsitektur yang unik. Tiap lekuk serta penempatan dari setiap inci rumah selalu diperhitungkan oleh masyarakat Batak.

  1. Pintu Masuk

Pintu masuk pada Bolon terlihat lebih menjorok ke dalam rumah. Lebarnya berkisar 80 cm dengan tingginya 1,5 m. Di sekeliling pintunya dihiasi oleh lukisan serta berbagai jenis ornamen Orga.

  1. Atap Bolon

Bagian atap dari Bolon mengadopsi bentuk melengkung dari punggung kerbau. Material yang digunakan berupa ijuk yang disusun rapi mengikuti rangka. Atap Bolon menjadi salah satu tempat suci bagi masyarakat Batak, sebab itu atap ini sering digunakan sebagai tempat meyimpan benda-benda pusaka.

  1. Badan Rumah

Bagi masyarakat Batak, badan rumah dari Bolon adalah serupa dunia tengah. Dunia tengah ialah tempat seluruh penghuni rumah melakukan aktivitasnya, seperti tidur, memasak dan saling bercengkrama.

  1. Dinding Bolon

Bolon memiliki dinding yang agak miring. Kemiringan dindingnya membuat angin yang berasal dari luar masuk ke dalam rumah dengan mudah. Antara dinding rumah dan pondasi saling diikat menggunakan rotan.

  1. Pondasi Bolon

Rumah Adat Bolon menggunakan pondasi yang berbentuk cincin. Pondasinya tersusun dari batu ojahan yang diatasnya diberi kayu. Diameter batu dan kayunya berkisar antara 45-50 cm.

Jenis-jenis Rumah Adat Bolon

Rumah adat Bolon memiliki banyak jenis, diantaranya:

  • Rumah Bolon Toba
  • Rumah Bolon Simalungun

2. Rumah Adat Sumatera Utara Nias

Rumah Adat Sumatera Utara Nias
Sumber: Wikipedia

Nama lain dari Rumah Adat Nias adalah Omo Sebua dan Omo Hada. Omo Sebua adalah Rumah Adat Nias yang ditempati oleh tuhenori (kepala negeri), salawa (kepala desa), dan kepala bangsawan. Sedangkan Omo Hada ditempati oleh masyarakat biasa.

Sentuhan tradisional kental terasa disetiap arsitekturnya. Modelnya berupa rumah panggung dengan tiang berasal dari kayu sebagai penyangga rumah. Masyarakat Sumut memanfaatkan kayu nibung sebagai tiang penyangga.

Kamu dapat menemukan Rumah Adat Nias hampir di seluruh wilayah Nias. Umumnya di Nias Barat dan Utara, rumah adat ini berbentuk bulat. Sedangkan pada Nias Utara dan Tengah berbentuk persegi panjang.

3. Rumah Adat Karo

Rumah Adat Karo
Sumber: Akurat.co

Luas dari Rumah Adat Karo hampir serupa dengan Bolon. Karena sangat luas, Karo ditempati hingga 8 kepala keluarga. Setiap harinya di Rumah Adat Karo terdapat pembagian tugas dan tiap anggota keluarga selalu berperan penting dalam tugas tersebut. Umumnya tiap kepala keluraga mash memiliki hubungan saudara.

Rumah Adat Karo juga memiliki nama lain yaitu Siwaluh Jabu. Tiap Siwaluh Jabu memiliki Jabu Jahe dan Jabu Julu. Kedua Jabu tersebut dibagi kembali menjadi banyak Jabu. Dalam Rumah Adat Karo Jabu adalah istilah lain dari ruangan.

4. Rumah Adat Melayu

Rumah Adat Melayu
Sumber: Pola Rumah

Letak geografis dari Sumatera yang dekat dengan Malaysia pun membawa pengaruh kepada kebudayaan di provinsi ini, salah satunya pembangunan rumah adat. Sebab pengaruh itulah, lahir Rumah Adat Melayu. Perbedaan rumah adat jenis ini dengan rumah ada Sumatera Utara lainnya terletak pada bagian warnanya. Rumah Adat Melayu menggunakan warna hijau dan kuning pada dinding kayunya.

Bagian atap dari rumah ini menggunakan ijuk sebagai penutupnya. Bentuknya pun mengikuti rangka kayu yang sudah dibuat.

Kamu bisa menemukan Rumah Adat Melayu di Medan, Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Lakat dan daerah yang letaknya lebih dekat dengan Malaysia.

5. Rumah Adat Pakpak

Rumah Adat Pakpak
Sumber: Pariwisata Sumut

Rumah adat ini dinamakan sama persis dengan pembuatnya, yakni Suku Pakpak. Nama lain dari rumah adat ini ialah Jerro. Arsitektur Rumah Adat Pakpak adalah rumah panggung. Bagian penyangganya terbuat dari kayu yang cukup tinggi serta kuat. Kemudian, bagian atap dari rumah ini pun meggunakan ijuk sebagai penutup rangkanya.

6. Rumah Adat Sumatera Utara Angkola

Rumah Adat Sumatera Utara Angkola
Sumber: Pariwisata Sumut

Sama halnya dengan Rumah Adat Pakpak, Rumah Adat Angkola juga dinamakan sama persis dengan suku pembuatnya, yaitu Suku Angkola. Arsitekturnya hampir sama dengan Rumah Adat Melayu. Bagian dindingnya menggunakan papan kayu yang kuat. Namun pada Rumah Adat Angkola menggunaan cat yang lebih gelap daripada Rumah Adat Melayu.

Di provinsi Sumatera Utara, rumah ini juga disebut dengan Bagas Godang.

7. Rumah Adat Mandailing

Rumah Adat Mandailing
Sumber: Batak Network

Deretan rumah adat Sumatera Utara selanjutnya adalah Rumah Adat Mandailing. Nama lain dari rumah ini sama dengan Rumah Adat Angkola, yaitu Bagas Godang. Sebab inilah orang sekitar sering menganggap sama kedua rumah adat ini.

Munculnya Mandailing berasa dari daerah Sumatera Utara yang berbatasan langsung dengan provinsi Riau. Hingga kini kamu masih bisa menemukan rumah ini di daerah Kabupaten Mandailing Natal dan Tapanuli Selatan.

8. Rumah Adat Sumatera Utara Simalungun

rumah adat simalungun
Sumber: Pariwisata Sumut

Rumah adat Sumatera Utara yang terakhir adalah Rumah Adat Simalungun. Bagian unik dari rumah ini adalah atapnya yang berbentuk limas. Bagian kaki penyangganya tidak terbuat dari kayu nibung, tetapi menggunakan kayu gelondong.

Baca juga: 5 Rumah Adat Jawa Tengah yang Masih Ada Hingga Sekarang!

Nah itu dia 8 keanekaragaman Rumah Adat Sumatera Utara. Gimana, makin paham kan? Semoga bermanfaat ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *